Senin, 10 Desember 2012

Makalah "Pendekatan Pembelajaran"

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jika kita tinjau perkembangan dan pertumbuhan seseorang, maka makin jelaslah kehidupan seseorang di dalam lingkungan yang berbudaya itu merupakan suatu perjuangan dari seseorang untuk hidup dengan hak asasi manusia dalam menyatakan dirinya, makhluk yang berkehendak berdiri sendiri. Makin aktif ia berikan kontribusi dalam lingkungan sosialnya, aki ia menjalin ukatan dan menerima norma darin lingkungan, makin meningkatkan aspirasi aspirasi dalam mempersoalkan kepentingan untuk mencapai cita citanya dalam mewujudkan dirinya (Self-Actualization), mengacu kepada kemandirian. Manusia hiduo antara dua kutub ekstensi, sosial (Lingkungan) dan kutub ektensi individu. Yang satu dan yang lain saling terjalin dalam dirinya (Individualisasi dan Sosialisasi). Pada satu pihak ia berhak mengemukakan dirinya atau kutub ekstensi individual ingin dihargai dan diakui, tetapi pada pihak lain ia harus menyesuaikan diri pada ketentuan ketentuan yang berlaku dalam masyarakat, didalam lingkungan sosialnya (kutub ekstensi sosial). Bila antar kedua kutub ini ada keseimbangan, maka ia akan mencapai suatu kondisi mental sehat, tetapi bukan semata mata keseimbangan inilah yang merupakan makna hidup. Pada umumnya manusia beraspirasi dan dalam mewujudkan aspirasi itu ada suatu jarak yang ditempuh oleh setiap orang, yaitu jarak potensi yang dimiliki dan apa yang ingi dicapainya, jarak antara ingin mengenal diri sebagaimana ia adanya, prestasinya (konsep diri) dan sebagaimana ia ingin menjadi. Mendidik pada hakikatnya merupakan bantuan untuk mencapai perkembangan dalam mewujudkan dirinya, tanpa mengabaikan kepentingan lingkungannya dalam perkembangan tersebut seperti yang tercetus dalam perumusan GBHN yang bertolak dari UUD 45 dalam kehidupan Pancasila Indonesia seutuhnya mencakup kemandirian dan kemampuan untuk ikut bertanggung jawab terhadap pembangunan bangsanya. Ini berarti bahwa cara cara pemberian informasi itu dan suasana interaksi itu berlangsung lebih penting daripada informasi itu sendiri. Disinilah proses pendekatan dan pembelajaran supaya siswa mampu belajar secara aktif. B. Rumusan Masalah 1. Pengorganisasian siswa dalam proses belajar mengajar 2. Posisi guru dalam pengolaha pesan 3. Proses pengolahan pesan BAB 2 PEMBAHASAN A. Pengertian Pendekatan Belajar Pendekatan belajar dapat dilakukan di sembarang tempat, kondisi, dan waktu. Cepatnya informasi lewat radio, televise, film, internet, surat kabar, majalah dapat mempermudah belajar. Meskipun dapat dengan mudah diperoleh, tidak dengan sendirinya seseorang terdorong untuk memeperoleh pengetahuan, pengalaman dan keterampilan daripadanya. Guru professional memperlakukan pengetahuan dan keterampilan pendekatan pembelajaran agar mampu mengelola berbagai pesan sehingga siswa terbiasa belajar sepanjang hayat. Pendekatan pembelajaran dapat berarti anutan pembelajaran yang berusaha meningkatkan kemampuan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa dalam pengolahan pesan sehingga tercapai sasaran belajar. Dalam belajar tentang pendekatan belajar tersebut, orang dapat melihat pengorganisasian siswa, posisi guru-siswa dalam pengolahan pesan dan pemerolehan kemampuan dalam pembelajaran secara individual, kelompok dan klasikal. Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu: 1) Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (output) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya. 2) Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran. 3) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah langkah (steps) yang akan ditemtup dari titik awal sampai dengan sasaran. 4) Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukur (standar) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha. Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah: 1) Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik. 2) Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. 3) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran. 4) Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya. Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat). Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut: Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. B. Pendekatan ditinjau dari segi pengolahan pesan Proses pengolahan pesan Ada 2 yaitu: 1. Pengolahan pesan secara deduktif Guru kelas satu smp di kota A menggajar pokok bahasan ‘ Faktor-Faktor Produksi dan Cara Memperbesar Produksi’. Ia menjelasan bahwa factor produksi terdiri dai\ri factor produksi alam, tenaga, modal, dan organisasi. Ia menerangkan pengertian-pengertian yang berkenaan factor-faktor produksi tersebut. Sebagai ilustras, ia mengemukakan bahwa ‘ factor-faktor alam adalah prodaksi asli yang merupakan sumber pokok yang memenuhi kebutuhan, factor produksi alam tersebut terdiria dari tanah , kekayaan alam, dan tenaga alam.’ Kemudian ia memberi contoh tentang hal-hal yang tercakup dalam pengertian tertentu; sebagai ilustrasi, yang tergolong dalam kekayaan alam adalah hewan, tumbu-tumbuhan, barang tambang. Atas dasar pegertian tersebut guru mengajak siswa untuk mempelajari factor-faktor produksi di kabupaten A. Penyampaian pesan oleh guru dari suatu pernyataan generalisasi kemudian siswa membuktikan kebenaran generalisasi tersebut. Adapun langkah-langkah pengolahan pesan secara deduktif yaitu: a) Pendahuluan pembelajaran b) .Penyajian generalisasi konsep c) Pengumpulan data yang mendukung generalisasi d) Analisis dan data dan verifikasi generalisasi e) Aplikasi generalisasi pada data yang terkumpul f) Evaluasi tentang proses pengolahan pesan contoh prilaku pemerolehan pegetahuan siswa tersebut tergolong pengolahan pesan secara deduktif. Secara umum priilaku pengolah pesan secara deduktif dapat dilukiskan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Pendahuluan pembelajaran 2) Penyajian generalisasi dan konsep. Dalam hal ini guru mengemukakan rumusan generalisasi yang telah disiapkan, dan guru juaga menjelaskan konsep dengan contoh-contoh . siswa berperanan memahami generalisasi dan konsep tersebut. 3) Pengumpulan data yang mendukung generalisasi. Guru meminta siswa mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dan menguji kesahan data. 4) Analisis data dan verifikasi generalisasi. Guru meminta siswa menganalisis data yang terkumpul, dan menguji kembali generalisasi. Bila perlu siswa dapat mengumpulkan data lagi agar verifikasi generalisasi lebih meyakinkan. 5) Aplikasi generalisasi pada data yang terkumpul. 6) Evaluasi tentang proses pengolahan pesan pemerolehan pengetahuan atau pengalaman tersebut. Pelaku evaluasi sebaiknya guru dan siswa secara bersama-sama. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pengolahan pesan secara dedukti dimulai dengan : 1. guru mengemukakan generalisasi 2. Penjelasan berkenaan dengan konsep-konsep 3. pencarian data yang dilakuakan oleh siswa-siswa 2. Pengolahan pesan secara induktif Guru memberikan bimbingan dan memberikan contoh-contoh kemudian siswa berusaha menarik kesimpulan. Informasi tentang penerimaan dan penngeluaran orang tua siswa di kumpulkan oleh kelompok. Guru membimbing analisis tentang anggaran penerimaan dan pengeluaran rumah tangga kelompok orang tua dengan mengajukan pertanyaan bimbingan. Contoh perilaku pemerolehan pengetahuan tersebut tergolong pengolaha pesan secara induktif. Secara umum prilaku pengolahan pesan secara induktif dapat di lukiskan sebagai berikut : 1) pendahuluan pembelajaran 2) Pengumpulan data. Guru siswa mengumpulkan data sehubungan dengan topik yang dipelajari. Sebaiknya guru telah menyiapkan lembaran kerja. Dalam pembuatan lembaran kerja sebaiknya siswa juga diajak serta. Pekerjaan pengumpulan data dapat dilakukan beberapa tahap sesuai dengan masalah dengan dipelajari 3) Analisa data. Guru meminta siswa untuk mempelajari data, mengolong- golongkan, membandingkan, menguji kebenaran data, dan menyimpulkan sementara. 4) Perumusan dan pengujian hipotesis. Hipotesis disusun berdasarkan teori yang ada atau prinsip yang benar. Data yang ditemukan dapat digunakan untuk uji hipotesis. Hipotesis dapat diterima atau di tolak. Bila ternyata benar, hipotesis diterima. Sebalikya, bila ternyata salah, hipotesis di tolak. 5) Mengaplikasikan generalisasi. Pada tahap ini guru meminta siswa untuk menerapkan generalisasi pada data lain. 6) Evaluasi hasil dan proses belajar. Guru memberi nilai pada proses pemerolehan, pengolahan, analisis, penarikan generalisasi, rumus generalisasi, dan uji hipotesis. Pengolahan pesan secara induktif bermula dari : a. Fakta atau peristiwa khusus b. Penyusunan konsep berdasarkan fakta-fakta c. Penyusunan generalisasi berdasarkan konsep-konsep. Bila sudah ada teori yang benar, pada umumnya di rimuskan hipotesis d. Terapan generalisasi pada data baru, atau uji hipotesis, kemudian penarikkan kesimpulan lanjut. Adapun langkah-langkah pengolahan pesan secara induktif yaitu.: - Pendahuluan pembelajaran - Pengumpulan data. - Analisis data. - Perumusan dan pengujian hipotesis. - Mengaplikasikan generalisasi. - Evaluasi hasil belajar C. Pendekatan di tinjau dari segi pengorganisasian siswa Pengorganisasian siswa dalam belajar terdiri dari 3 metode yaitu: 1. Pembelajaran individual 2. Pembelajaran kelompok 3. Pembelajaran kelas Pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar guru yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu. Cirri-ciri yang menonjol pada pembelajaran individu dapat di tinjau dari segi: e. Tujuan pengajaran • Pemberian kesempatanan keleluasaan siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri. • Pengembangan kemampuan tiap-tiap individu secara optimal. f. Siswa • Kedudukan siswa bersifat sentral yaitu sebagai pusat layanan pengajaran. • Tanggung jawab siswa untuk belajar sendiri sangat besar. Siswa dituntut sadar untuk belajar demi kepentingan dirinya sendiri. g. Guru • Kedudukan guru bersifat membantu. Bantuannya berupa perencanaan kegiatan belajar, pengorganisasian kegiatan belajar, penciptaan pendekatan antara guru dengan siswa, dan fasilitas yang mempermudah siswa dalam belajar. • Memonitor dan mengatur kegiatan belajar dari awal sampai akhir. • Sebagai fasilitator(membimbing,menyediakan sumber belajar, memberi motivasi, memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. h. Program pembelajaran • Sebagi usaha memperbaiki pembelajaran klasikal. • Diberlakukan untuk siswa SMP ke atas. • Tidak semua bidang studi cocok diterapkan pembelajaran individual • Berlangsung efektif jika kemampuan siswa, tujuan pembelajaran, prosedurnya, criteria keberhasilan, dan keterlibatan guru dalam evaluasi semuanya dimengerti oleh siswa. 2. Pembelajaran kelompok (kelompok kecil) Adalah kegiatan mengajar yang menitikberatkan pada keberhasilan kelompok dalam belajar. Ciri-ciri yang menonjol pada pembelajaran individu dapat di tinjau dari segi: a. Tujuan • Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional. • Mengembangkan sikap social dan semangat gotong royong. • Mendinamiskan kegiatan kelompok sehingga tiap anggota merasa sebagai bagian dari kelompok. • Mengembangkan kemampuan kepemimpinan kepada setiap anggota kelompok. b. Siswa • Siswa dalam kelompok kecil adalah anggota kelompok yang belajar untuk memecahkan masalah kelompok. c. Guru • Guru berperan sebagai pembentuk kelompok, perencana tugas kelompok, pelaksanaan, dan evaluasi. d. Program pembelajaran • Peningkatan kemampuan individu sebagai anggota kelompok e. Orientasi dan tekanan utama pelaksanaan • Peningkatan kemampuan kerja kelompok B. Posisi guru-siswa dalam pengolahan pesan. Dalam belajar mengajar guru menempati posisi sebagai penyampai pesan dan murid/siswa sebagai penerima pesan. Berdasarkan posisi guru-siswa dalam pengolahan pesan terdapat 2 system pembelajaran yaitu: 1. Pembelajaran dengan strategi ekspositori a) Merupakan kegiatan mengajar yang berpusat pada guru. Guru aktif memberikan penjelasan secra rinci tentang bahan pengjaran. b) Tujuan utama “memindahkan” pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. c) Peran guru o Penyusun program pembelajaran. o Pemberi informasi yang benar. o Pemberi fasilitas belajar yang baik. o Pembimbing dalam perolehan informasi yang benar. o Penilai pemerolehan informasi d) Siswa o Pencari informasi yang benar. o Pemakai media sumber yang benar, o Menyelesaikan tugas sehubunga dengan penilaian guru. e) Evaluasi o Hasil belajar yang dievaluai adalah luas dan jumlah pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang dikuasai siswa. Alat evaluasi berupa tes. 2. Pembelajaran dengan strategi inkuiri 1) Merupakan pengajaran yang mengharuskan siswa mengolah pesan sehingga memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai. 2) Tekanan utama o Kemampuan berpikir individual lewat pnelitian. o Peningkatan kemampuan mempraktekan metode dan teknik penelitian. o Latihan keterampilan intelektual khusus yang sesuai dengan cabang ilmu tertentu. o Latihan menemukan sesuatu 3) Peran guru o Menciptakan suasana bebas berpikir kepada siswa. o Fasilitator dalam penelitian. o Sebagai rekan diskusi. o Pembimbing penelitian 4) Peran siswa o Mengambil prakarsa dalam pencarian masalah dan pemecahan masalah. o Aktif dalam belajar melakukan penelitin. o Penjelajah tentang masalah dan metode pemecahan. o Penemu pemecahan masalah 5) Evalusi o Keterampilan pembelajaran. o Keterampilan pengumpulan data/informasi. o Keteramplan meneliti tentang objek. o Keterampilan menarik kesimpulan. o Keterampilan membuat laporan. BAB 3 PENUTUP A. Kesimpulan Peran guru sebagai pengajar mewajibkan guru menyampaikan sejumlah materi pelajaran sesuai dengan garis-garis program pengajaran. Guru harus memiliki, memahami dan terampil dalam menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam manajerial kelas, meskipun tidak semua pendekatan yang dipahami dan dimilikinya dipergunakan bersamaan atau sekaligus. Dalam hal ini, guru dituntut untuk terampil memilih atau bahkan memadukan pendekatan yang dianggap meyakinkan untuk menangani kasus Pengorganisasian kelas yang tepat dengan masalah yang dihadapinya. Guru mempunyai peranan yang besar dalam menentukan keberhasilan Pengorganisasian kelas maupun Pengorganisasian pembelajaran. Penciptaan sistem lingkungan yang merangsang anak untuk belajar sangat diperlukan karena hanya dengan situasi belajar seperti itulah tujuan akan tercapai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar